
PENGERTIAN KREATIVITAS
Secara konvensional Kreativitas didefinisikan dengan pendekatan tiga P yaitu pendekatan: - pribadi yang kreatif, - proses kreatif -, - dan produk kreatif. Kemudian timbul pandangan baru yang menyatakan bahwa pendekatan press juga penting untuk memahami Kreativitas.
1. Pendekatan Proses Kreatif
- Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock 1978)
- Proses kreatif sebagai “ munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya dilain pihak” (
Penekanan pada : - aspek baru dari produk kreatif yang dihasilkan
- aspek interaksi antara individu dan lingkungannya / kebudayaannya
- Kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya. Tujuan pembangunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik (Alvian, 1983)
- Kretaivitas adalah suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfiir (Utami Munandar, 1977).
- Guilford (1986) menekankan perbedaan berfikir divergen ( disebut juga berfikir kreatif) dan berfikir konvergen.
Berfikir Divergen : bentuk pemikiran terbuka, yang menjajagi macam-macam kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan/ masalah.
Berfikir Konvergen: sebaliknya berfokus pada tercapainya satu jawaban yang paling tepat terhadap suatu persoalan atau masalah
Dalam pendidikan formal pada umumnya menekankan berfikir konvergen dan kurang memikirkan berfikir divergen.
Torrance (1979) menekankan adanya ketekunan, keuletan, kerja keras, jadi jangan tergantung timbulnya inspirasi.
Torrance (1955, 1988) Kreativitas didefinisikan sebagai proses yang menyerupai langkah-langkah dalam metode ilmiah, yaitu:
a. Memahami adanya kesulitan, masalah kesenjangan informasi, elemen yang hilang, sesuatu yang menyimpang (askew).
b. Memperkirakan dan merumuskan hipotesis tentang perbedaan-perbedaan.
c. Menilai dan mengetes perkiraan (guesses) dan hipotesis
d. Memperbaiki dan mengetes kembali
e. Mengkomunikasikan hasil.
Definisi Torrance tersebut bersifat unik karena meliputi seluruh langkah-langkah kreatif mulai dari menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasil.
2. Pendekatan Produk Kreatif
Definisi yang terfokus pada produk kreatif menekankan unsur orisinalitas, kebaruan, kebermaknaan.
Definisi yang menekankan kebaruan seperti dikemukakan (Baron, 1969 dalam Davis 1993: 47) “Creativity may be defined, quite simply, as the ability to bring something into existence”. “Kreativitas dapat didefinisikan sangat sederhana sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang baru”.
Sedang yang menekankan pada orisinalitas, misalnya pernyataan Mason (1960) sebagai berikut: “Creativeness in the best senseof word, requires two things: an original concept, or “idea”, and benefit someone”. “Kreativitas dalam pemahaman yang paling baik mempersyaratkan dua hal: suatu konsep atau ide yang orisinal dan suatu keuntungan bagi seseorang.
Dan definisi yang menekankan pada kebermaknaan dikemukakan oleh Haefle (1962), sebagai berikut: “Creativity is defineed as the ability to make new combination of social worth”. Kreativitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan membuat kombinasi baru yang bermakna sosial.
- Kreativitas sebagai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru (1965).
- Kecuali unsur baru, juga terkandung peran faktor lingkungan dan waktu (masa). Produk baru dapat disebut karya kreatif jika mendapatkan pengakuan (penghargaan) oleh masyarakat pada waktu tertentu (Stein, 1963). Namun menurut ahli lain pertama-tama bukan suatu karya kreatif bermakna bagi umum, tetapi terutama bagi si pencipta sendiri.
- Kreativitas atau daya kreasi itu dalam masyarakat yang progresif dihargai sedemikian tingginya dan dianggap begitu penting sehinnga untuk memupuk dan mengembangkannya dibentuk laboratorium atau bengkel-bengkel khusus tang tersedia tempat, waktu dan fasilitas yang diperlukan (Selo Sumardjan 1983).
Beliau mengingatkan pentingnya bagian Desain dan Penelitian dan Pengembangan sebagai bagian yang vital dari suatu industri
3. Pendekatan Pribadi Kreatif
Menurut Hullbeck (1945 dalam Heru Basuki 2005) pribadi kreatif didefinisikan sebagai “Creative action is an imposing ofe one’s own whole personality on the environment in a unique and characteristic way”. Tindakan kreatif mucul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Steinberg (1988) terdapat tiga segi dalam kreativitas (three-facet model of creativity). Ia menyatakn kreativitas merupakan pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis yaitu: intelegensi,
- Kreatifitas merupakan ungkapan unik dari seluruh pribadi sebagai hasil interaksi individu, perasaan, sikap dan perilakunya.
- Kreatifitas mulai dengan kemampuan individu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Biasanya seorang individu yang kreatif memiliki sifat yang mandiri. Ia tidak merasa terikat pada nilai-nilai dan norma-norma umum yang berlaku dalam bidang keahliannya. Ia memiliki system nilai dan system apresiasi hidup sendiri yang mungkin tidak sama yang dianut oleh masyarakat ramai.
Dengan perkataan lain:
“Kreativitas merupakan sifat pribadi seorang individu (dan bukan merupakan sifat social yang dihayati oleh masyarakat) yang tercermin dari kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang baru (Selo Soemardjan 1983).
4. Pendekatan Pendorong Kreativitas
Setiap orang memiliki potensi kreatif dalam derajat yang berbeda-beda dan dalam bidang yang berbeda-beda. Potensi ini perlu dipupuk sejak dini agar dapat diwujudkan. Untuk itu diperlukan kekuatan-kekuatan pendorong, baik dari luar (lingkungan) maupun dari dalam individu sendiri.
Menurut Simpson dalam Vernon (1982 dalam Heru Basuki 2005) dorongan internal merupakan: ”The initiative that one manifest by his power to break away from the usual sequence of thought”. Inisiatif yang dimanifestasikan dengan dorongan untuk keluar dari seluruh pemikiran yang biasa,
Perlu diciptakan kondisi lingkungan yang dapat memupuk daya kreatif individu, dalam hal ini mencakup baik dari lingkungan dalam arti sempit (keluarga, sekolah) maupun dalam arti kata luas (masyarakat, kebudayaan). Timbul dan tumbuhnya kreativitas dan selanjutnya berkembangnya suatu kreasi yang diciptakan oleh seseorang individu tidak dapat luput dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu itu hidup dan bekerja (Selo Soemardjan 1983)
Mengenai dorongan dari lingkungan, ada lingkungan yang tidak menghargai imajinasi atau fantasi dan menekan Kreativitas dan inovasi. Kreativitas juga tidak akan berkembang dalam budaya yang terlalu menekan konformitas dan tradisi dan kurang terbuka terhadap perubahan atau perkembangan baru.
Tetapi ini tidak cukup, masyarakat dapat menyediakan berbagai kemudahan, sarana dan prasarana untuk menumbuhkan daya cipta anggotanya, tetapi akhirnya semua kembali pada bagaimana individu itu sendiri, sejauh mana ia merasakan kebutuhan dan dorongan untuk bersibuk diri secara kreatif, suatu pengikatan untuk melibatkan diri dalam suatu kegiatan kreatif, yang mungkin memerlukan waktu lama. Hal ini menyangkut motivasi internal.
Daftar Pustaka :
Heru Basuki, A. M. 2005. Kreativitas, Keberbakatan Intelektual dan Faktor-Faktor Pendukung dalam Pengembangannya.
saya minta gambar anak kecil ini ya...
BalasHapusmonggo mbak. :)
BalasHapus